Senin, 28 Desember 2009

Tarif Murah dan Berkualitas Sebuah Pilihan Cerdas

Perkembangan Teknologi Informasi berdampak terjadinya globalisasi dunia. Sekat-sekat wilayah, ruang, dan waktu bukan lagi kendala. Kejadian di belahan benua lain, bisa disaksikan pada saat yang sama. Teknologi telah menipiskan dan menyempit batasan-batasan negara, dalam pengertian adanya pergeseran nilai, paradigma, sosial budaya, dan ekonomi menjadi tak terpisahkan. Apakah dampaknya menguntungkan atau sebaliknya ? Siapkah bangsa Indonesia dengan arus globalisasi ? Mampukah era digital ini meningkatkan kualitas hidup masyarkat Indonesia ?


Pengguna Jasa Telekomunikasi beruntungkah ?

Dalam teknologi informasi dan komunikasi, salah satu faktor terpenting yaitu kemudahan mengakses. Akses dalam pengertian "memakmurkan" pelayanan informasi. Masyarakat dimanjakan dengan layanan yang serba cepat, efektif, mudah dan murah.

Internet salah satu diantaranya. Dewasa ini banyak muncul sekolah, pelatihan, seminar diskusi online. Hanya membutuhkan perangkat komputer dan kamera serta video streaming . Belajar tidak perlu lagi pergi ke suatu tempat yang sering terjebak macet diperjalanan. Disamping itu bisa menghemat biaya, waktu, dan memudahkan. Sama halnya ketika membeli barang atau membutuhkan suatu jasa hanya memasukan nomor kartu kredit, proses transaksi selesai. Ini sangat membantu masyarakat mengurangi biaya operasional.

Dengan demikian, akan terciptanya peluang-peluang baru. Masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan internet untuk menggali potensi diri seperti skill dan knowledge. Sehingga kesejangan sosial, ekonomi, pendidikan, dan taraf hidup rakyat dapat berkurang. Masyarakat lapisan menengah ke bawah mendapatkan keleluasaan dalam memperoleh informasi sekaligus meningkatkan kualitas hidupnya.


Beberapa aspek manfaat dari kemudahan layanan informasi bagi masyarakat diantaranya :
  1. Edukatif, sebagai langkah awal pembelajaran dan pengetahuan masyarakat terhadap teknologi digital.
  2. Ekonomis, yaitu semakin murah, efisien dalam aktifitas bisnis dengan memanfaatkan e-commerance dan e-businnes. Transaksi pembelian dan penjual produk atau jasa secara elektronik dan penggunaan information and communication technologies (ICT) sebagai penopang kegiatan bisnis.
  3. Kualitatif, teknologi informasi meningkatkan skill masyarakat serta mengurangi perbedaan kesenjangan dalam masyarakat sekaligus menciptakan daya saing pada perdagangan bebas.

Upaya dukungan untuk memperoleh kemudahan layanan informasi yaitu dengan pemberlakuan tarif telekomunikasi yang murah di Indonesia. Sejalan dengan itu filosofi XL sebagai salah satu operator, berperan mencerdaskan bangsa Indonesia dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan penurunan tarif sebagai langkah positif.

Tarif yang terjangkau akan menyuburkan interaksi sosial dengan terbentuknya himpunan komunitas dalam masyarakat. Adanya simbiosis mutualisma berupa pertukaran informasi, pemahaman baru, sekaligus membentuk pola pemikiran terbuka antara individu dan golongan.

Merupakan keuntungan bagi konsumen memperoleh pelayanan informasi dengan harga terjangkau khususnya bagi lapisan menengah ke bawah. Denyut nadi perekonomian rakyat semakin terasa, sebab memberikan peluang-peluang baru dengan adanya tambahan informasi dengan dukungan kemudahan transaksi.


Reformasi Infrastruktur Telekomunikasi

Penurunan tarif ( baca : tarif murah ) disadari atau tidak, berimbas pada lonjakan pemakaian. Jumlah pelanggan semakin bertambah akan berdampak kualitas jaringan berkurang sebab traffic line semakin padat. Dijelaskan Dian Siswarini, Sekertaris Jenderal Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI), penurunan kualitas layanan karena terjadi lonjakan jumlah pelanggan yang tidak disertai peningkatan Infrastruktur operator yang memadai.

Berdasarkan Penelitian Balitbang Depkominfo bahwa jumlah pemakai telepon 8,7 juta telepon tetap dan 23 juta telepon selular. Indonesia mempunyai teledensity 5-6 % ( density : jumlah pembicaraan yang digunakan tiap 100 individu ) dibandingkan Malaysia sekitar 20%, Singapura 50 %. Infrastruktur perlu percepatan guna menanggulangi kualitas layanan publik.

PT. Excelcomindo Pratama ikut bagian mendatangani konsorium Pembangunan Jaringan Serat Optik di Kawasan Indonesia Timur (KIT). Proyek Palapa Ring ini dimulai tahun 2008 sepanjang 10 KM menelan biaya 4 Triliun rupiah, sampai sekarang tengah berjalan. Program ini merupakan bagian peningkatan infrastrukur telekomunikasi dalam mengurangi ekses dari penurunan kualitas layanan.

Pembangunan infrastruktur yang terintegritas menjadi modal utama mengahadapi era globalisasi. Tanpanya reformasi telekomunikasi akan sangat "membosankan" , kedaluarsa, dan tidak efektif. Negara Indonesia punya tantangan dalam mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi. Bila fakta lapangan pembangunan hardware dan software tidak mengikuti perkembangan teknologi, maka akan terjadi kesenjangan digital ( digital divide ) Akibatnya Indonesia akan selalu tertinggal dalam menghadapi persaingan perdangangan bebas.

Tantangan ke depan dalam membangun e-government akan meningkat dan berat. Kerjasama pemerintah dan operator serta payung hukum dalam membangun kualitas hidup masyarakat bisa berjalan berdampingan. Dengan harapan Rakyat Indonesia bisa merasakan fasilitas layanan telekomunikasi murah dengan kualitas kelas dunia.


Jusuf

dosen dan penulis lepas





Kamis, 24 Desember 2009

Aku Tak Butuh Seorang Pahlawan


Perang telah dimulai. Semua persenjataan, amunisi dan perbekalan para prajurit mulai di check list. Suara kokang senapan laras panjang bersautan memicu denyut jantung berpacu. Dumm...., dari kejauhan Arsenal memuntahkan si bola penghancur yang memporak-porandakan sekitarnya, menambah getaran ulu hati. Nyali berasa ciut dan keder. Sekujur tubuhku basah oleh stimulus adrenalin ketakukan. Mata mengkerucut tanda semangat memudar, perasaan galau, tangan bergetar mencari sesuatu untuk pegangan.

"Sama saja", umpatku dalam hati, terbangun dari lamunan. Momok sekaligus hantu bagi peradaban manusia. Tak ada aman untuk persembunyian semua seolah terus rasa takut membayangi. Tak ada jalan lain kecuali menghadapi secara jantan. Layaknya seorang pejuang sejati menghadapi musuh sampai berkalang tanah. Sehebat apapun persiapan, senjata, latihan, akan terkapar bersimbah darah bila keberanian hilang.

Seolah tersudut dan terpojok di tembok yang tebal. Hanya ada dua pilihan menyerah atau melawan sampai mati. Mati sebagai pejuang lebih terhormat dari hidup dalam penyerahan. Mirip seperti itu pula manusia, takut menghadapi hidup dengan menyalahkan sesuatu atau bahkan berdalih seribu alasan. Sebaliknya manusia yang berjuang dengan dirinya sampai mempertahankan harga diri dari injakan kaum bedebah dan sombong. Babak belur, terluka, caci maki, sumpah serapah. Manusia tipe ini tak tunduk sampai kapanpun.

Hanya cinta yang mampu menanggung beban seberat apapun, tanpa itu mustahil bisa bangkit. Aku tak butuh pahlawan, tapi aku butuh sebuah cinta.....




Mata Dunia Terarah pada Cape Town


Tulisan artikel berjudul " Mata Dunia Terarah pada Cape Town " yang diterbitkan tanggal 4 Desember 2009 oleh Redaksi Indonesia. Menarik sekali artikel ini untuk dianalisis karena menyentuh secara global terutama penggila bola diseluruh dunia.

Memang benar, denyut kegairahan pesta menjelangnya dimulai final Draw kejuaraan dunia 2010 di Cape Town sebagai tuan rumah Penyelenggara, ketika itu Jum'at sore 4 Desember 2009.

Dalam situs resmi suatu pesta bagi bangsa Afrika Selatan telah disiapkan, mirip tandingan perayaan di tahun baru. Sepanjang jalan dipenuhi lebih dari 18000 pengikut parade dengan penjagaan dua kali lebih ketat. Arak-arakan bergerak menuju pusat kota yang telah menyediakan lima layar lebar.

Disaksikan para kontestan Miss World yang berlangsung di Johannesberg, 12 desember 2009. Ditambah dengan pergelaran musik dari artis-artis lokal diselingi lenggokan diatas panggung catwalk dari peserta kontenstan kencantikan dunia. Bahkan masyarakat menyiratkan secara emotional menyatakan tidak pernah merasa sebangga hari ini sebagai bangsa Afrika selatan. Mereka menegaskan bahwa hari ini sebagai hal yang luar biasa, dan pasti dikenang karena pertama kali dirayakan disini dan masa depan tampak sangat cerah.

Adapun kecemasan tentang keamanan, kenyamanan serta kesiapan Afrika Selatan sebagai tuan rumah, tidaklah terbukti. CEO FIFA world Cup 2010, Dr Danny Jordan memaparkan keberhasilan dalam hasil undian telah membuktikan bahwa Afrika Selatan lebih dari sekedar siap melaksanakan suatu pertandingan dengan suasana berbeda ketika ke 32 tim tiba disini.

Masing-masing walikota dari tiap kota sesumbar telah menyiapkan segalanya. Salah satu Walikota tempat penyelenggaraan kejuaraan di Pelabuhan Mandela Bay, Mr Zanaxolo mengatakan " Kami telah mengantisipasi akomodasi, transportasi, kenyamanan, keamanan, hiburan dan tentunya Nelson Bay Stadion merupakan salah satu fasilitas yang terbaik di dunia. Kami yakin semua tim akan merasa betah disini. "

Sedangkan Pembangunan Stadion Cape Town, menjadi salah termegah sejak dimulai pembuatannya di tahun 2007 menelan biaya sekitar 600 Juta U$ Dollar dari 10 stadion yang bangun dan renovasi. Berlokasi di kawasan Green Point berlatar belakang 2 ikon Gunung Table dan Pulau Rubben, tempat pembuangan sekaligus tahanan politik semasa rezim Apartheid, seperti Walter Sisulu, Oliver Tambo, termasuk Penerima Nobel Perdamaian Nelson Mandela.

Bahkan Walikota Cape Town, mengatakan telah menerima pesan ucapan selamat dari berbagai dunia mengenai serangkaian peresmian Hasil Pengundian dan Cape Town telah benar-benar siap menjadi tuan rumah Piala dunia 2020.

Seutuhnya Cape Town benar-benar siap dan pantas. Tidak hanya itu mereka membangun Stadion Cape Town yang dirancang menggunakan bahan material yang bisa didaur ulang serta ramah lingkungan guna mendukung tercipta program ramah lingkungan yang dikenal dengan project Green Goal 2010. Implementasi 17 Oktober 2008 dengan menggandeng Pemegang Saham, LSM, Pebisnis, masyarakat sipil, media serta departemen lingkungan dan pariwisata.