Kamis, 24 Desember 2009

Aku Tak Butuh Seorang Pahlawan


Perang telah dimulai. Semua persenjataan, amunisi dan perbekalan para prajurit mulai di check list. Suara kokang senapan laras panjang bersautan memicu denyut jantung berpacu. Dumm...., dari kejauhan Arsenal memuntahkan si bola penghancur yang memporak-porandakan sekitarnya, menambah getaran ulu hati. Nyali berasa ciut dan keder. Sekujur tubuhku basah oleh stimulus adrenalin ketakukan. Mata mengkerucut tanda semangat memudar, perasaan galau, tangan bergetar mencari sesuatu untuk pegangan.

"Sama saja", umpatku dalam hati, terbangun dari lamunan. Momok sekaligus hantu bagi peradaban manusia. Tak ada aman untuk persembunyian semua seolah terus rasa takut membayangi. Tak ada jalan lain kecuali menghadapi secara jantan. Layaknya seorang pejuang sejati menghadapi musuh sampai berkalang tanah. Sehebat apapun persiapan, senjata, latihan, akan terkapar bersimbah darah bila keberanian hilang.

Seolah tersudut dan terpojok di tembok yang tebal. Hanya ada dua pilihan menyerah atau melawan sampai mati. Mati sebagai pejuang lebih terhormat dari hidup dalam penyerahan. Mirip seperti itu pula manusia, takut menghadapi hidup dengan menyalahkan sesuatu atau bahkan berdalih seribu alasan. Sebaliknya manusia yang berjuang dengan dirinya sampai mempertahankan harga diri dari injakan kaum bedebah dan sombong. Babak belur, terluka, caci maki, sumpah serapah. Manusia tipe ini tak tunduk sampai kapanpun.

Hanya cinta yang mampu menanggung beban seberat apapun, tanpa itu mustahil bisa bangkit. Aku tak butuh pahlawan, tapi aku butuh sebuah cinta.....




Tidak ada komentar:

Posting Komentar